HomeRuang BKPERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU CYBERBULLYING DI MASA...

PERANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENGATASI PERILAKU CYBERBULLYING DI MASA PEMBELAJARAN JARAK JAUH MELALUI PEMBENAHAN KONSEP DIRI

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Akhir tahun 2019 dikejutkan dengan kemunculan virus corona di Wuhan, sebuah daerah di China yang kemudian menyebar ke seluruh belahan dunia. Kehadirannya di tahun 2019 membuat pandemi ini dinamakan covid-19 (corona virus disease 2019). Upaya pencegahan penyebaran virus dilakukan dengan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun. Selain itu juga diupayakan untuk menghindari kerumunan.

Berdasarkan asumsi bahwa peserta didik belum dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang harus diterapkan, sekolah sebagai bentuk kerumunan termasuk salah satu hal yang dihindari selama masa pandemi. Bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kegiatan pembelajaran serta layanan bimbingan dan konseling berjarak ini mutlak memerlukan perangkat teknologi dan informasi sebagai penghubung antara guru dan peserta didik, yaitu perangkat handphone dan atau komputer yang terhubung dengan internet. Berkaitan dengan hal ini, maka penggunaan internet menjadi meningkat.  Angela Kearney, Perwakilan UNICEF di Indonesia,   dalam sebuah seminar bertajuk Penggunaan Media Digital di Kalangan Anak-Anak dan Remaja di Indonesia menyebutkan hasil sebuah penelitian dengan data sebagai berikut: 80 persen anak-anak dan remaja menggunakan internet untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah, 70 persen untuk mencari teman online melalui media sosial, 65 persen untuk menghibur diri dengan mendengarkan musik dan 39 persen untuk menonton video. (Kominfo.go.id, 2014)

Penggunaan internet yang meningkat dan komunikasi antar teman dengan menggunakan media online, memunculkan kecenderungan perilaku baru seputar interaksi anak dan remaja yang perlu diwaspadai, yaitu cyberbulling atau perundungan di media sosial.

Sebuah survey mengenai penetrasi internet dan perilaku pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan fakta bahwa 49 persen pengguna internet pernah di-bully. Fakta lainnya mencatat bahwa dalam kurun waktu 9 tahun sejak 2011 hingga 2019, ada 37.381 pengaduan kekerasan terhadap anak. Untuk  bullying di pendidikan maupun di media sosial mencapai 2473 laporan dan trennya terus meningkat. (KPAI, 2020)

Kondisi psikologis peserta didik yang tidak sehat, baik sebagai pelaku maupun korban cyberbullying adalah hal memprihatinkan dan sisi negatif dari kondisi pandemi. Bila tidak mendapat perhatian dan penanganan yang baik, dikhawatirkan akan menjadi kondisi psikologis yang permanen dan berpengaruh buruk terhadap perkembangan insan-insan Indonesia, yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 berikut ini.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

 

Perilaku cyberbullying menggambarkan ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri, yang merupakan garapan bidang bimbingan pribadi dan sosial. Tak kalah dengan bidang bimbingan akademis/ belajar dan karir, bidang pribadi dan sosial memiliki andil yang besar bagi kesuksesan individu. Di dalamnya tergambar kecerdasan interpersonal, yang merupakan salah satu bentuk kecerdasan menurut teori inteligensi ganda. Kecerdaan interpersonal atau kecerdasan sosial ini ditandai dengan kemampuan individu dalam menjalin relasi dan komunikasi yang baik dan menyenangkan. Kecerdasan interpersonal dapat membuat individu disenangi lingkungannya, membuatnya merasa nyaman dan secara tidak langsung akan berdampak positif bagi peningkatan prestasi belajarnya.

Keberadaan layanan bimbingan dan konseling selama PJJ memiliki peran strategis guna meminimalisir latar belakang perilaku cyberbullying hingga mengintervensi perilaku negatif tersebut bila telanjur terjadi.

  1. TUJUAN

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui

  1. bagaimana perilaku cyberbullying dan kecenderungannya di masa pandemi;
  2. penyebab individu menjadi pelaku cyberbullying;
  3. dampak yang dirasakan oleh korban cyberbullying;
  4. karakteristik konsep diri pelaku dan korban cyberbullying;
  5. peranan BK dalam membentuk konsep diri positif sebagai upaya mengatasi perilaku cyberbullying.

 

  1. MANFAAT
  2. Bagi peneliti: meningkatkan kemampuan menulis, menambah wawasan mengenai cyberbullying dan upaya untuk mengatasinya.
  3. Bagi peserta didik: menghindarkan peserta didik dari perilaku cyberbullying, memberi wawasan mengenai apa yang mesti dilakukan bila menjadi korban cyberbullying atau bila melihat teman menjadi korban cyberbullying.
  4. Bagi sekolah: sebagai acuan untuk membuat kebijakan dan bahan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah cyberbullying.
  5. Bagi orang tua: memberikan pemahaman mengenai cara mendidik agar anak terhindar dari perilaku cyberbullying baik sebagai pelaku maupun korban

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.  CYBERBULLYING

Berikut ini adalah definisi cyberbullying menurut Wikipedia.

Cyberbullying or cyberharassment is a form of bullying or harassment using electronics means. Cyberbullying or cyberharassment are also known as online bullying. It has become increasingly common, especially among teenagers, as the digital sphere has expanded and technology has advanced. Cyberbullying is when someone, typically a teenager, bullies or harasses others on the internet and in other digital spaces, particularlyon social media sites. Harmfull bullying behaviour can include posting rumors, threats, sexual remaks, a victim personal information, or pejoratives label. Bulying or harassment can be identified by repeated behaviour and an intent to harm. Victim of cyberbullying may experience lower self esteem, increased suicidal ideation, and an variety of negatif emotional responses including being scared, frustrated, angry, or depressed. (Wikipedia, the free encyclopedia, 2020).

 

Definisi lainnya menyebutkan bahwa

 

Cyberbullying adalah penyalahgunaan internet untuk melecehkan, mengancam, mempermalukan dan mengejek orang lain. Tidak seperti bullying fisik maupun verbal, cyberbullying tidak membutuhkan pertemuan tatap muka, serta tanpa melibatkan kekuatan fisik. Cyberbullying dapat dilakukan semua orang, asal mereka memiliki koneksi internet serta perangkat seperti telepon pintar. Orang yangh melakukan cyberbullying bisa bersifat anonim, sehingga mereka kerap tak memiliki rasa khawatir untuk teridentifikasi. Cyberbullying bisa terjadi 24 jam atau sepanjang waktu. Dampak bagi korban tidak hanya di dunia maya tapi juga di alam nyata. Cyberbullying dapat dilakukan laki-laki maupun perempuan. Anak laki-laki lebih sering melakukan cyberbullying melalui aktivitas sexting atau dengan mengirimkan ancaman fisik. Sementara anak perempuan dengan melontarkan kebohongan, gosip atau menyebarkan rahasia orang lain. (Kompas.com, 2019)

 

Cyberbullying yang termasuk perilaku agresi dapat berakar dari pengaruh pribadi, keluarga maupun teman sebaya. Pola pengasuhan negatif itu adalah yang otoriter, keras, disiplin kaku dan iklim keluarga yang di dalamnya kurang memiliki kebaikan, kesatuan serta rasa hormat di antara anggotanya. Demikian pula dengan pengaruh teman sebaya. Respon teman sebaya terhadap tindakan bullying akan mendorong, memperkuat atau bahkan mengurangi tindakan agresi individu.

 

B.  KONSEP DIRI

Individu berperilaku berdasarkan kepribadiannya, dan inti dari kepribadian adalah konsep diri. Oleh karena itu, untuk mengubah perilaku seseorang ke arah yang lebih baik, harus dimulai dengan membenahi konsep dirinya. Berikut ini adalah konsep diri menurut Mohamad Surya (2015: 86).

Konsep diri merupakan inti pola-pola kepribadian yang menjadi landasan bagi perwujudannya di lingkungan kehidupan. Hal ini mengandung makna bahwa penampilan kepribadian akan banyak ditentukan oleh kualitas konsep dirinya. Konsep diri merupakan pandangan gambaran mengenai diri sendiri yang bersumber dari satu perangkat keyakinan dan sikap terhadap dirinya sendiri. Setiap orang akan memiliki sikap dalam berbagai ragam bentuk dan kadar yang akan menentukan perwujudan kualitas kepribadiannya. Konsep diri dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif. Yang harus diwujudkan pada setiap orang adalah konsep diri yang sehat sehingga mampu menampilkan kepribadian yang sehat pula. Untuk itu, setiap individu diharapkan memiliki kemampuan untuk mengenal makna konsep diri dan mampu menganalisisnya serta mampu mengembangkan konsep dirinya secara tepat.

 

Keluarga sebagai bagian terdekat dari diri individu merupakan orang-orang penting yang memengaruhi pembentukan konsep diri sejak dini. Sanjungan dan penghargaan akan menyebabkan penilaian positif pada diri seseorang. Sebaliknya, ejekan, cemoohan dan hardikan akan menyebabkan penilaian negatif terhadap diri sendiri. Bila seseorang merasa dirinya dihormati, dia akan lebih menyenangi dirinya. Sebaliknya bila seseorang diremehkan, disalahkan dan ditolak, maka dia tidak akan menyenangi dirinya.

Mohamad Surya (2015: 90-91) mengungkapkan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan dan mempertahankan konsep diri yang sehat yaitu

  1. meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan;
  2. pergaulan yang sehat dan harmonis melalui kontak-kontak sosial yang tepat;
  3. pemahaman diri secara tepat. Ketidakmampuan mengenal diri sendiri, dapat membawa pada situasi kekurangmampuan dalam menetapkan harga dirinya. Oleh karena itu, untuk memiliki harga diri secara tepat sangat diperlukan adanya pemahaman diri secara tepat melalui berbagai cara pemahaman diri;
  4. pengembangan kompetensi diri, dilakukan dengan cara mengubah konsep diri ideal dengan konsep diri yang lebih realistis, memperbaiki konsep diri aktual sesuai dengan kenyataan yang ada dan mengembangkan pola-pola kompensasi yang sehat.

 

C.  PEMBAHASAN

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) selain memberikan efek negatif, seperti yang banyak dikeluhkan oleh orang tua peserta didik, juga berdampak positif dalam hal lain. Dampak positifnya adalah peserta didik memiliki waktu lebih leluasa dalam mengulang materi pelajaran, meningkatkan kemandirian belajar dan penguasaan terhadap penggunaan teknologi pembelajaran.

Namun dampak positif yang dipandang ideal itu pun dalam kenyataannya menjadi kurang terasa tatkala efek negatif lebih marak  muncul dalam perilaku yang memprihatinkan. Efek negatif yang paling mengemuka adalah terjadinya peningkatan penggunaan gawai yang berbanding lurus dengan meningkatnya perilaku negatif dalam hubungan sosial.

Banyak anak-anak memiliki akun sosial media dan mereka bebas berinteraksi di dalamnya. Sebagai remaja yang belum cukup stabil dalam mengelola emosi dan menanggapi stimulus yang beragam di dunia maya, anak-anak ini merespon apa yang dilihatnya dengan keterbatasan etika, wawasan dan persepsi. Alhasil, respon yang dihasilkan dalam komunikasi online itu bernuansa negatif berupa ungkapan-ungkapan agresi, mengganggu, melecehkan, mencemarkan nama baik dan sejenisnya yang belakangan marak disebut dengan istilah cyberbullying.

Cyberbullying disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, peserta didik remaja yang sedang mencari jati diri dan berada dalam masa transisi menuju masa dewasa sangat sensitif terhadap berbagai perubahan dalam dirinya. Perubahan fisik yang memengaruhi perubahan psikis menjadikan mereka galau dan mudah terpengaruh lingkungan. Pribadi yang belum berkembang sempurna dan selayaknya berada dalam bimbingan guru dan orang tua, tiba-tiba memiliki akses yang luas di media sosial. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku gagap. Terkejut bercampur senang. Perilaku berkembang tak terkendali.

Kedua, karena perasaan rendah diri. Banyak remaja enggan menampilkan foto profil dengan foto asli, hal ini terkait kurangnya penerimaan diri terhadap kondisi fisik. Merasa diri tidak secantik atau setampan tokoh idola yang selalu digambarkan dengan postur tubuh ideal, berkulit putih dengan hidung mancung dan wajah tirus. Remaja bersembunyi di balik tokoh kartun atau foto artis Korea pujaannya. Kurangnya penerimaan diri menjadikan remaja merasa rendah diri. Perasaan rendah diri membentuk konsep diri negatif. Perilaku cyberbullying dianggap dapat memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan harga diri dan memberi rasa puas.

Ketiga, perasaan bosan dan tertekan. Pembelajaran jarak jauh memberi dampak kurangnya kesempatan untuk bermain dan berinteraksi secara langsung dengan teman-teman. Keterbatasan ruang menjadikan individu merasa bosan dan menjadi tertekan. Dalam keadaan bosan, remaja menghibur diri dengan mendengarkan musik, menonton video dan melakukan komunikasi interaktif dalam media sosial.

Keempat, kurangnya pengawasan orang tua. Efek positif PJJ bagi orang tua adalah meningkatnya kelekatan orang tua dengan anak serta memiliki lebih banyak waktu luang untuk melakukan bermacam-macam kegiatan bersama. Namun dalam kenyataanya, orang tua memiliki keterbatasan waktu karena harus mencari nafkah dan mengurusi hal lainnya.

Cyberbullying dapat memberi dampak negatif bagi korban. Bully yang dilakukan melalui gawai membuat pelaku tidak dapat melihat langsung reaksi korban. Hal ini dapat mendorong pelaku meningkatkan intensitas atau tingkat sarkasme untuk memuaskan perasaannya. Jelas dampaknya membuat korban semakin tertekan secara psikologis.

Dalam kasus korban menjadi sasaran amarah, korban akan merasa kehilangan harga diri, memandang diri negatif, tak berdaya hingga menimbulkan dendam. Untuk kasus pelecehan seksual, korban akan merasa dirinya kotor, hina dan tak berharga. Dalam kasus pencemaran nama baik di hadapan publik, korban akan merasa tak punya muka, hilang keberanian untuk menampakkan diri karena perasaan malu yang luar biasa. Demikianlah, semua bentuk bully berakibat hilangnya harga diri dan menimbulkan perasaan sedih, kecewa, amarah, dendam dan putus asa. Korban akan berperilaku murung, menghindari penggunaan gawai dan takut menerima pesan. Dampak lebih buruk dapat berupa percobaan bunuh diri. Semua perilaku itu dapat dideteksi lebih awal antara lain dengan penurunan prestasi belajar dan menutup diri dari pergaulan.

Manusia akan berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya agar mencapai keseimbangan. Pelaku cyberbullying adalah individu-individu yang memerlukan ruang untuk menampilkan eksistensinya. Berawal dari harga diri yang kurang, pelaku bully membutuhkan sebuah kesempatan untuk membuat dirinya merasa berkuasa. Perasaan berkuasa, hebat dan berani adalah perasaan yang dia butuhkan karena tidak didapatkannya dalam ruang yang positif. Bisa jadi ruang tersebut tertutup karena lingkungan tidak memberi kesempatan padanya untuk memiliki perasaan berharga dan sukses, bahkan bisa jadi pelaku sendiri adalah korban bully.

Di sisi lain, korban cyberbullying ada dua tipe. Tipe pertama adalah individu yang berani menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap perbuatan pelaku. Bisa dengan menyatakan langsung atau dengan memblok akses pelaku. Korban merasa tertekan namun segera dapat membenahi emosinya dan menyesuaikan diri. Mereka adalah individu yang memiliki konsep diri positif. Tipe kedua adalah individu yang kemudian menjadi murung, tidak berani menceritakan masalahnya karena takut dirinya makin terancam, menutup diri, menghindari pergaulan. Tipe kedua ini rentan terhadap percobaan bunuh diri. Tipe kedua adalah individu dengan konsep diri negatif.

Kepribadian bukan hal permanen, melainkan dapat diubah. Pendidikan, termasuk bimbingan dan konseling, adalah upaya mengubah dari kondisi apa adanya menjadi bagaimana seharusnya. Sebagai pendidik yang memiliki bekal pengetahuan psikologi lebih banyak dibanding guru mata pelajaran, dan waktu yang tersedia khusus untuk melaksanakan layanan BK, guru BK selayaknya dapat memaksimalkan segala upaya untuk membuat peserta didik merasa nyaman, termasuk dalam hubungan sosial dengan teman-temannya.

Pada dasarnya dalam perilaku mendidik yang dilakukan guru sudah terkandung program pencegahan cyberbullying secara tidak langsung.  Terlebih lagi dalam materi dan layanan bimbingan dan konseling, guru BK kerap menangani permasalahan ketidakharmonisan hubungan sosial antar siswa. Untuk fungsi preventif dilaksanakan dalam layanan bimbingan klasikal dan untuk fungsi kuratif dilakukan dengan teknik  konseling kelompok dan individual.

Guru sebagai pendidik utama di lingkungan sekolah perlu diingatkan kembali berkaitan dengan kemampuan profesionalnya yang mesti menciptakan suasana kondusif edukatif dalam membentuk konsep diri positif peserta didik. Pembentukan konsep diri positif dapat semakin ditingkatkan dengan pemberian reward atas keberhasilan anak. Dalam PJJ, pemberian nilai dan pujian di kelas online adalah pengalaman sukses yang membanggakan.. Situasi online bukan hambatan. Majalah dinding online di media sosial adalah contoh sederhana sebagai media yang dapat mengoptimalkan potensi peserta didik, juga kompetisi membuat vlog dan lomba-lomba lainnya yang berbasis jaringan.

Selain guru, warga sekolah yang lain pun (tata usaha, pustakawan, satpam, pesuruh sekolah, penjaga kantin, dsb) mesti memahami bahaya perilaku cyberbullying dan dapat mensosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan pencegahan dan mengatasi perilaku cyberbullying. Tak kalah penting, peserta didik juga diharapkan tahu apa yang harus mereka lakukan bila menjadi korban atau bila mengetahui temannya menjadi korban cyberbullying. Untuk itu, sangat baik bila guru BK menggerakan warga sekolah dengan mengadakan program intervensi perilaku cyberbullying yang terkoordinasi  dengan baik

 

BAB III

PENUTUP

 

A.   KESIMPULAN

Untuk mencegah penyebaran covid-19, pembelajaran serta layanan bimbingan dan konseling dilakukan secara berjarak. Disamping faktor guru dan peserta didik, perangkat pembelajaran menjadi hal mutlak. Penggunaan handphone, yang sebelumnya dibatasi, dalam masa pandemi justru menjadi perangkat belajar. Terjadi peningkatan penggunaan handphone berikut komputer atau laptop.

Dampak PJJ antara lain adalah munculnya perasaan bosan dan tertekan. Untuk mengurangi rasa bosan, peserta didik mendengarkan musik, menonton video dan melakukan interaksi virtual. Dalam kondisi kurangnya pengawasan orang tua, perilaku komunikasi virtual sangat rentan melanggar norma. Terjadi intimidasi, pelecehan, mengumbar amarah sesuka hati dan sebagainya yang termasuk dalam kategori cyberbullying.

Di samping karena rasa bosan, stress dan kurangnya pengawasan orang tua, konsep diri menjadi faktor yang berpengaruh pada pelaku cyberbullying. Lingkungan memberi andil yang sangat besar atas terbentuknya konsep diri seseorang. Umumnya pelaku cyberbullying berasal dari lingkungan yang seringkali merespon individu secara negatif, tidak memberi perasaan sukses dan berharga yang membangun harga diri. Justru sebaliknya, yang didapat dari lingkungannya adalah pengalaman kekerasan dan direndahkan. Dengan melakukan cyberbullying, individu merasa dirinya berkuasa, hebat, ditakuti dan memiliki pengaruh. Di sini, individu merasa kebutuhannya akan harga diri terpenuhi, merasa puas, dan terdorong mengulangnya lagi.

Cyberbullying diarahkan pada individu tertentu yang secara tidak langsung dan tanpa disadari mengirimkan sinyal-sinyal bahwa dirinya dapat dijadikan sasaran cyberbullying. Sinyal ini dapat berasal dari pengalaman interakasi langsung maupun interaksi virtual. Dalam interaksi langsung, pelaku menangkap sinyal dari korban yang lemah atau justru dari korban yang over acting. Di sisi lain, interaksi dan perilaku virtual korban pun dapat mendorong pelaku cyberbullying untuk melancarkan aksinya.

Cyberbullying dapat memberikan dampak dari yang paling rendah hingga yang paling parah. Dari perasaan sedih, tertekan, kehilangan harga diri, putus asa, dendam, berusaha menyerang pelaku, hingga percobaan bunuh diri.

Dalam menanggapi perilaku cyberbullying, ada dua reaksi korban. Ada individu yang tertekan, diam, tidak berbagi cerita tentang kejadian yang menimpanya dan menutup diri. Ada juga individu yang menceritakannya pada orang dewasa di sekitarnya lalu menutup semua akses pelaku di dunia maya sehingga tak dapat menghubunginya lagi dan kembali menyesuaikan diri sehingga dapat berperilaku normal. Tanggapan korban, selain dilandasi konsep diri, juga dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dia mengenai cyberbullying yang disosialisasikan oleh lingkungan.

Layanan bimbingan dan konseling di masa pembelajaran jarak jauh memiliki peran yang besar untuk pembenahan konsep diri di samping sosialisasi pencegahan dan mengatasi perilaku cyberbullying. Kegiatan ini dilakukan melalui layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok maupun konseling individual secara jarak jauh. Guru BK dapat memberikan materi berkaitan dengan cyberbullying dan memberikan kesempatan kepada peserta didik yang menjadi korban agar berani berbicara kepada orang dewasa (guru dan atau orang tua). Guru BK juga memberi kesempatan untuk konsultasi kelompok maupun pribadi berkaitan dengan cyberbullying ini.

 

B.   SARAN

Dalam tulisan ini disinggung mengenai pola asuh orang tua yang turut berpengaruh terhadap konsep diri anak, namun pembahasan kurang mendalam. Untuk telaahan pada karya tulis berikutnya, penulis menyarankan untuk membahas cyberbullying dan upaya mengatasinya dari sisi perlakuan orang tua terhadap anak.

Awal mula pembentukan konsep diri ada di keluarga. Pemahaman orang tua akan hal ini diharapkan dapat mencegah atau memperbaiki konsep diri negatif anak melalui pola asuh dan cara mendidik yang lebih baik.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest articles